Hasil penelitian baik dari sektor pertanian, pangan, hingga teknologi yang mangkrak di gudang-gudang universitas berhasil membuahkan simpati bagi para pengusaha. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari berujar bahwa hasil-hasil penelitian tersebut bisa diterjemahkan ke pasar. “Hasil riset itu ada nilai ekonomisnya. Sayang jika hanya jadi pajangan di gudang,” kata Okto, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Menurut penilaian Okto, selama ini terdapat missing link antara dunia penelitian dengan pasar. Seharusnya, kata dia, setiap penelitian itu bisa dikoneksikan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menjembatani dunia akademisi dengan usaha, Hipmi telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang kerja sama pengembangan kewirausahaan di lingkungan kampus dan pengembangan agribisnis.
“Kami berharap dengan kerja sama ini dapat meningkatkan kewirausahaan dan menjembatani dunia penelitian dan pengusaha,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor IPB Herry Suhardiyanto mengungkapkan, dari ribuan penelitian yang dilaksanakan oleh IPB, biasanya hanya 10 persen yang bisa diterjemahkan ke pasar.
“Hanya 10 persen saja hasil kreasi kami, yang saat ini ada di masyarakat. Sisanya ya hanya berupa laporan di meja-meja saja. Ini sungguh disayangkan,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini banyak mahasiswa yang orientasinya bukan hanya kuliah tapi juga bisnis. Dia berharap, dengan semakin banyak mahasiswa yang berwirausaha, maka akan semakin besar pula hasil-hasil penelitian yang bisa diterjemahkan ke pasar.
Sumber : www.okezone.com