fateta menu left
fateta menu right

Login

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini1605
mod_vvisit_counterKemarin3074
mod_vvisit_counterMinggu Ini13815
mod_vvisit_counterMinggu Lalu16095
mod_vvisit_counterBulan Ini41145
mod_vvisit_counterBulan Lalu67019
mod_vvisit_counterSetiap Hari2889267

Kami memiliki: 7 guests, 2 bots online
Hari ini: Des 18, 2014

Twitter Fateta

IPB Badge

Member Online

None
Bahasa Indonesia
Home Berita Berita Terbaru Penanganan Masalah Gizi di Indonesia
Penanganan Masalah Gizi di Indonesia PDF Cetak email
Ditulis oleh Admin   
Selasa, 26 Februari 2013 03:32

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyatakan, problematika gizi dan pangan di Indonesia merupakan hal yang kompleks dan sangat penting. Penanganannya membutuhkan kelembagaan yang kuat dengan melibatkan berbagai ahli, disiplin, juga profesi dari kementerian serta pemangku kepentingan.

"Mari kita kembangkan bersama, kita harus pikirkan bagaimana membangun nutrition centre yang bisa memberikan gizi terbaik dan harus kita akui pembentukan lembaga ini itu sangat-sangat sangat penting," ungkap Menkes dalam sambutannya pada acara Seminar Gizi Nasional di Balai Kartini Jakarta, Senin (25/2/2013).

Menkes menegaskan, masalah gizi merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan manusia. Kekurangan gizi selain dapat menimbulkan masalah kesehatan juga menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa.

"Dalam skala yang lebih luas, kekurangan gizi dapat menjadi ancaman bagi ketahanan dan kelangsungan hidup suatu bangsa," ujarnya.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2010, prevelensi gizi kurang pada pada balita di Tanah Air masih sebesar 17,9 persen dan stunting 35,6 persen, dan diperkirakan 14,2 persen balita di Indonesia mengalami gizi lebih dan kegemukan (obesitas), bahkan pada kelompok dewasa, prevelensi gizi telah mencapai 21 persen.

"Kelebihan berat badan (overweight) akan berdampak buruk pada hari tua kita," tandas Menkes.

Hal senada juga diungkapkan Profesor Soekirman, Guru Besar Ilmu Pangan IPB yang mengatakan masalah gizi ini tidak bisa tuntas kalau hanya dilakukan oleh satu sektor saja.

“Jadi harus melalui lintas sektoral. Bukan sendiri-sendiri. Dibicarakan dan dilakukan bersama lewat program BKKBN, Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, juga Kementerian Kesehatan, dan lembaga lainnya,” ungkapnya.

Menurut Ketua Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) IPB yang juga Chairman Danone Institue ini, untuk bisa berhasil dalam program gizi nasional ini, juga harus memperhatikan program 1.000 hari pertama, sejak janin dalam kandungan hingga usia anak dua tahun.

"Ya, percepatan perbaikan gizi pada 1.000 hari pertama harus di mulai dari masa kehamilan sampai anak berusia 2 tahun," tandasnya.

Beberapa program perbaikan gizi yang telah dilakukan beberapa perusahaan swasta di antaranya Ayo Melek Gizi Community dan Nutrion Education Center (AMG Connect)  hasil kerjasama antara Institut Pertanian Bogor dan PT Sarihusada. Kerjasama ini memfasilitasi pendidikan gizi bagi 200 kader penggiat edukasi gizi masyarakat termasuk kader posyandu di wilayah Bogor serta pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan gizi masyarakat.

Selain itu, program yang dikembangan bersama dengan pakar nutrisi serta didukung oleh Kementerian Kesehatan ini juga menggandeng PKPU, ibu hamil dan para kader Posyandu untuk mengurangi permasalahan gizi pada balita yang menekankan tentang pentingnya pada pengenalan mengenai apa itu zat gizi, jenis zat gizi, serta Angka Kebutuhan Gizi (AKG).

Diharapkan dengan edukasi gizi ini para Ibu mampu untuk menyusun menu sederhana bagi anak dan keluarganya dengan kandungan gizi yang seimbang sehingga permasalahan kekurangan gizi di Indonesia dapat berkurang.

Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari bertujuan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk senantiasa berperilaku gizi seimbang dan berperan aktif dalam mengatasi masalah gizi ganda masyarkat terutama ibu dan anak.

Sumber: http://health.kompas.com

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 26 Februari 2013 03:39
 


.: Copyright © 2011 Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) IPB :.
PO Box 220 Bogor INDONESIA 16002
Telp. +62 251 8621210 ::: Fax. +62 251 8623203